ANTARA IDEOLOGI DAN GAYA HIDUP GRUNGE

Irwan Tarmawan

Abstract


Ideologi sebagai produksi sosial makna sumber pemaknaan dan nilainilai konotatif yang mewujudkan kegunaannya. Nilai-nilai Grunge memberikan
suasana yang berbeda sebagai musik rock umumnya, lirik yang dilantunkan, gaya bermain musik, pakaian serta kehidupan keseharian menjadi keyakinan yang Mendasari menjadi trend baru. Konotasi dalam produksi sosial makna adalah bertolak belakang dari keadaan umumnya, kekuatan yang muncul dari minoritas.
Grunge memiliki pengaruh yang terus meluas, Nirvana salah satu pencetusnya memiliki kekuatan dengan segala keterbatasan grunge itu sendiri untuk terus menunjukan ideologinya ke seluruh penjuru dunia. Menurut Fiske (Fiske:243) hegemoni diperlukan, dan harus begitu bekerja keras, karena pengalaman sosial kelompok-kelompok subordinat (baik berdasarkan kelas, gender, ras, usia, ataupun faktor lain) terus menerus memberikan gambaran yang bertentangan dengan lukisan ideologi dominan yang dibuat untuk mereka oleh mereka sendiri dan relasi sosial. Ideologi yang dominan membentuk hegemoni untuk memenangkan kesepakatan atas apa yang telah diperjuangkan. Secara umum Grunge ingin mencapai tujuannya hanya semata ingin menuangkan ideologiinya
diatas kemapanan yang sudah ada karena keterkekangannya dalam
berkreatifitas. Nirvana berhasil menaklukan ideologinya sendiri untuk
memberikan kekuasaan yang besar yang mampu mengalahkan dominasi gender sebelumnya.
Grunge adalah Rock and Roll tanpa atribut, begitulah beberapa media massa menyebutnya, namun semakin eksis, menyebar dan meluas Grunge dapat diterima oleh masyarakat walau tidak sedikit yang menuai kebencian sebagian orang.
Ketika Grunge menjadi kekuatan komoditas, memberikan penilaian-penilaian atas sikap konsumen untuk memilih style Grunge menjadi gaya hidup dalam kehidupan masyarakat.
Kata Kunci: ideologi, gaya hidup.

Refbacks

  • There are currently no refbacks.


 

                                         

 


Flag Counter