PENERAPAN KONSEP SMART CITY PADA PERENCAANAAN LANSKAP WISATA ALAM SEMPADAN SUNGAI KEMIRI - KOTA TEGAL
DOI:
https://doi.org/10.34010/jamika.v6i1.643Keywords:
smart city, lanskap, wisata alam, sempadan sungai kemiriAbstract
Smart city adalah sebuah kota yang dapat memonitoring dan mengintegrasikan kondisi semua infrastruktur, baik fisik, sosial dan bisnis. Tujuan dibuatkan konsep smart city adalah membuat kota lebih efisien, berkelanjutan, adil dan layak huni. Konsep ini pun dapat diterapkan pada perencanaan tata ruang, wilayah atau kota, tidak hanya pada penyelesaian permasalahan kota-kota besar saja. Setiap perencanaan yang menggunakan konsep smart city bertujuan untuk sustainable city (kota berkelanjutan). Hal tersebut sinergi dengan perencanaan lanskap wisata alam yang berkelanjutan di Sempadan Sungai Kemiri Kota Tegal. Perencanaan lanskap yang akan dikembangkan adalah terwujudnya integritas dan produktivitas lanskap di Sempadan Sungai Kemiri dan sumber daya alam dan buatan yang multifungsi. Guna mewujudkan tujuan perencanaan, konsep smart city yang mengedepankan penggunaan IT dapat diterapkan pada zona-zona perencanaan lanskap dan kegiatan-kegiatan yang akan dikembangkan. Sistem IT yang digunakan antara lain, sensor pintar (alat sensor yang dipasang pada lanskap), perangkat/alat yang dapat menghubungkan antara satu jaringan dengan jaringan yang lain (monitoring), komputerisasi, media sosial dan GIS. Indikator keberhasilannya diukur dari penerapan konsep smart city antara lain, manajemen dan orgnisasi yang lebih baik, teknologi yang lebih canggih, terwujudnya good goverment, stakeholder paham dan dapat menggunakan teknologi yang diterapkan, perekonomian meningkat, pertumbuhan infrastruktur lebih baik serta keberadaan lingkungan yang berkelanjutan.
References
Arifin, H. S. dkk. 2009. Analisis Lanskap Agroforestri “Konsep, Metode dan Pengelolaan dengan Studi Kasus Indonesia, Filipina, Laos, Thailand dan Vietnam. Bogor : IPB Press.
Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (BAPPEDA) Kota Tegal. 2008. Perencanaan Tata Ruang Bagian Wilayah Kota (BWK) E, C, A Sebagian Kota Tegal.
Chourabi, H., Nam, T., Walker, S., Ramon, J., Meellouli, S., Nahon, K., Pardo, T., and Scholl, J. 2012.Understanding Smart Cities : An Integrative Framework. 45th Hawaii International Conference on System Science.
Darsoprajitno, S. 2002. Ekologi Pariwisata “Tata Laksana Pengelolaan Objek dan Daya Tarik Wisataâ€. Bandung : Angkasa.
Dewi, Rahma. 2011. Perencanaan Lanskap Untuk Pengembangan Wisata Alam Di Sempadan Sungai Kemiri Kecamatan Margadana-Kota
Tegal. Universitas Padjadjaran. Bandung.
Farina, A. 1998. Principles and Methodes In Landscape Ecology. Great Britain. United Kingdom: Chapman & Hall, Ltd
HMN. 2014. Smart City, Konsep Kota Cerdas Sebagai Alternatif Penyelesaian Masalah Perkotaan di Indonesia.
(htt://www.m.portal.paseban.com/?mod=content&act=read&id=158601) diunduh januari 2015.
Hobbs, R. 1997. Future Landscape and The Future of Landscape Ecology. Australia: CSIRO. Dicision of Wildlife and Ecology.
ICISS. 2014. Kembangkan Smart City Sebagai Solusi CERGAS Masalah Kota di Indonesia.
(http://www.itb.ac.id) diunduh pada Januari 2015.
Krisrachmansyah, R. 2011. Penataan Kawasan Permukiman Bantaran Sungai Perkotaan Berbasis Ecological Design. Sekolah Pascasarjana Arsitektur Lanskap. Bandung: ITB.
Rahenkamp, J., Sachs, W and Wells, R. 1983. A Stratedy for Watershed Development That Beats The Bulldozer By Using Land-Sale Profits to Preserve Greenspace. A Landscape Architecture Book.
Ross, E.S. and Wall, G. 1999. Ecotourism Towards Theory and Practise.Tourism Management 20 (1999) 123-132.
Sari, D.R, Munandar, A, dan Pramukanto, Q. 2005. Perencanaan Lanskap Koridor Sungai Cisadane Sebagai Obyek Wisata Ilmiah Kotamadya Bogor. Jurnal Lanskap Indonesia. Vol 1/3/2005 : 1-4.