Penerapan Protocol Penilaian Tahap Awal Perencanaan Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH) Pada Jaringan Irigasi

  • Tri Rahajoeningroem Universitas Komputer Indonesia
  • Jana Utama Universitas Komputer Indonesia
Keywords: power plant, micro-hydro, irrigation network, assessment protocol, HSAP, Pembangkit listrik, mikrohidro, jaringan irigasi, protocol penilaian, HSAP

Abstract

ABSTRACT

The study of hydropower potential focuses on hydropower development in Sumatra (4,408 MW), Java (4,595 MW), and Sulawesi (3,240 MW) is in line with the actual development of the hydropower industry. These three islands cover 95% of the viable hydropower potential. Meanwhile, the potential of PLTMH is 770 MW and about 30% has been developed. Most of the Microhydro (<1 MW) and Mini hydro (1-10 MW) are targeting rural electrification with the greatest potential in Papua and Sumatra. Therefore, in the concept of optimizing water use and aligning Water Food Energy Nexus, apart from modernizing irrigation, it is also necessary to develop the use of PLTMH in irrigation networks to generate electricity through a Micro Hydro Power Plant (PLTMH). In practice, the use of irrigation networks for the development of PLTMH electrical energy does not interfere with the flow of irrigation water used to serve the needs of the farming community because the MHP technology used as a power plant only utilizes irrigation water flow with a certain volume, both in the waterfall and the aspect of its flow rate. To find out the completeness of the readiness for the utilization of irrigation networks for MHP, it is necessary to conduct an initial assessment of the preparation process has been carried out. One of the assessment methods that can be used for the construction of MHP are to use a standard sustainable hydropower assessment protocol known as the Hydropower Sustainable Assessment Protocol (HSAP).

Key words: power plant, micro-hydro, irrigation network, assessment protocol, HSAP

 

ABSTRAK

Studi tentang potensi tenaga air menempatkan fokus pada pengembangan tenaga  air di Sumatera (4.408 MW), Jawa (4.595 MW), dan Sulawesi (3.240 MW), yang sejalan dengan perkembangan aktual industri tenaga air. Ketiga pulau ini mencakup 95% dari potensi PLTA yang layak. Sementara potensi PLTMH adalah 770 MW dan sekitar 30% sudah dikembangkan. Sebagian besar Mikrohidro (<1 MW) dan Mini hidro (1-10 MW) menargetkan elektrifikasi pedesaan dengan potensi terbesar di Papua dan Sumatera. Oleh karena itu, dalam konsep optimalisasi pemanfaatan air dan penyelarasan Water Food Energy Nexus, selain modernisasi irigasi, juga perlu dikembangkan pemanfaatan PLTMH pada jaringan irigasi sehingga menghasilkan listrik melalui Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH). Pemanfaatan jaringan irigasi untuk pengembangan energi listrik PLTMH dalam prakteknya tidak mengganggu aliran air irigasi yang digunakan untuk melayani kebutuhan masyarakat petani sebab teknologi PLTMH yang digunakan sebagai pembangkit listrik, hanya memanfaatkan aliran air irigasi dengan jumlah volume tertentu, baik pada terjunan maupun pada aspek kecepatan alirannya.  Untuk mengetahui kelengkapan kesiapan pemanfaatan jaringan irigasi untuk PLTMH, perlu dilakukan penilaian (assessment) awal terhadap proses persiapan yang telah dilakukan. Salah satu metode penilaian yang dapat digunakan untuk pembangunan PLTMH adalah dengan menggunakan standar protokol penilaian tenaga air berkelanjutan atau yang dikenal dengan  Hydropower Sustainable Assessment Protocol (HSAP).

Kata kunci: Pembangkit listrik, mikrohidro, jaringan irigasi, protocol penilaian, HSAP

Published
2020-10-09