Jurnal Wilayah dan Kota https://ojs.unikom.ac.id/index.php/wilayahkota <table style="height: 399px;" width="722"> <tbody> <tr> <td align="left" valign="top"> <p><img src="/public/site/images/adminfdk/Covertabligh2.png" alt="" width="229" height="337"></p> </td> <td style="width: 50px;">&nbsp;<img src="/public/site/images/jurnalpwk/V05N02.jpg" width="306" height="478"></td> <td align="left" valign="top"> <p><strong>JWK: Jurnal Wilayah dan Kota</strong> is an academic journal published two times annually (April-November) by Program of Regional and City Planning (Program Studi Perencanaan Wilayah dan Kota, Fakultas Teknik dan Ilmu Komputer) Universitas Komputer Indonesia. This journal publishes original researches in multi concepts, theories, perspectives, paradigms and methodologies on regional and city planning.</p> <p>Specific topics of interest include (but are not confined to):</p> <ol> <li class="show"><em>Regional Planning</em></li> <li class="show"><em>Urban Planning<br></em></li> <li class="show"><em>Geospatial use on Regional and City Planning&nbsp;</em></li> <li class="show"><em>Transportation Planning</em></li> <li class="show"><em>ICT use on Regional and City Planning</em></li> </ol> </td> </tr> </tbody> </table> <p>Any submitted paper will be reviewed by reviewers. Review process employs double-blind review that the reviewer does not know the identity of the author, and the author does not know the identity of the reviewers.</p> <p><strong>JWK: Jurnal Wilayah dan Kota&nbsp;</strong>indexed by:</p> <p><strong><img src="/public/site/images/jurnalpwk/googlescholar1.png"><img src="/public/site/images/jurnalpwk/garuda.png"><img src="/public/site/images/jurnalpwk/onesearch.png"><img src="/public/site/images/jurnalpwk/crossref.png"></strong></p> Universitas Komputer Indonesia (UNIKOM) en-US Jurnal Wilayah dan Kota 2355-7281 IDENTIFIKASI ALIH FUNGSI LAHAN DARI SEKTOR PERTANIAN KE SEKTOR JASA DAN PERDAGANGAN KECAMATAN TELUK JAMBE TIMUR, KABUPATEN KARAWANG https://ojs.unikom.ac.id/index.php/wilayahkota/article/view/2451 <p><em>Alih fungsi lahan pertanian menjadi non-pertanian menjadi salah satu permasalahan yang ada di Kabupaten Karawang. Kondisi tersebut dikarenakan adanya laju pertumbuhan penduduk yang cukup tinggi sehingga kebutuhan akan ruang semakin meningkat, terutama yang terjadi di Kecamatan Teluk Jambe Timur yang mulai terlihat mengalami alih fungsi lahan pertanian ke sektor jasa dan perdagangan pada tahun 2013-2018. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi&nbsp; alih fungsi lahan yang terjadi, melihat persepsi masyarakat dan petani mengenai alih fungsi lahan yang terjadi serta melihat dampak yang diakibatkan oleh alih fungsi lahan di Kecamatan Teluk Jambe Timur. Metode penelitian digunakan analisis kuantitatif dan overlay peta Kecamatan Telukjambe Timur. Data primer melalui kuesioner serta data sekunder melalui dinas-dinas terkait dan studi literatur atau referensi lainnya. Dalam kurun waktu 5 tahun (2013- 2018) alih fungsi lahan pertanian yang terjadi di Kecamatan Teluk Jambe Timur, ada penurunan luas lahan pertanian sebesar 578,8 Ha (lahan kebun) dan 89,76 ha (lahan sawah). Namun disisi lain ada&nbsp; penambahan guna lahan sektor jasa dan perdagangan yang sebelumnya tahun 2013 belum memiliki sektor jasa dan perdagangan, pada tahun 2018 bertambah memiliki sektor jasa dan perdagangan&nbsp; dengan masing-masing luas lahan sebesar 54,74 Ha (sektor jasa) dan 39,88 Ha (sektor perdagangan). &nbsp;Persepsi masyaraka tentang&nbsp; kondisi lingkungan 47% berpendapat bahwa kondisi lingkungan semakin baik, sedangkan persepsi tentang persetujuan atas alihfungsi lahan terdapat&nbsp; 63% masyarakat tidak setuju dengan adanya alih fungsi lahan yang terjadi Kecamtan Teluk Jambe Timur. &nbsp;Persepsi masyarakat tentang manfaat alih fungsi lahan masyarakat sebanyak 75% mendapatkan manfaat positif karena adanya alih fungsi lahan. Sebanyak 32% masyarakat menjawab manfaat yang dirasa karena dengan adanya lapangan pekerjaan baru. Sedangkan menurut petani, terdapat 40% berpendapat adanya peningkatan harga lahan pertanian menjadi penyebab adanya alih fungsi lahan.</em></p> <p><em>&nbsp;</em></p> <p><strong><em>Kata Kunci :</em></strong><em> Alih fungsi lahan, Persepsi Masyarakat dan Petani, Dampak</em></p> Wisnu Pratama Moechtar Lia Warlina ##submission.copyrightStatement## 2019-04-08 2019-04-08 6 01 1 13 10.34010/jwk.v6i01.2451 EVALUASI PENYEDIAAN TEMPAT PEMAKAMAN UMUM (TPU) DI KOTA BANDUNG https://ojs.unikom.ac.id/index.php/wilayahkota/article/view/2452 <p><em>Tempat pemakaman umum (TPU) selain digunakan untuk kegiatan pemakaman, juga berfungsi sebagai RTH perkotaan. TPU yang ada di Kota Bandung sudah hampir penuh digunakan. Bahkan, 13 TPU yang ada dan memiliki luas lahan 1.454.955 m<sup>2</sup></em> <em>berdasar</em><em>kan</em><em> survey yang dilakukan oleh Pemerintah Kota Bandung kini 96% </em><em>telah</em><em> terisi. </em><em>Tujuan dari penelitian ini yaitu </em><em>untuk mengevaluasi pen</em><em>yediaan lahan </em><em>tempat pemakaman umum (TPU) di Kota Bandung berdasarkan pedoman dan peraturan yang terkait dengan pemakaman</em><em>. Sasaran yang ingin dicapai pada penelitian ini yaitu teridentifikasinya </em><em>kondisi eksisting pen</em><em>yediaan lahan </em><em>pemakaman di Kota Bandung saat ini melalui aspek-aspek utama pada pemakaman yaitu </em><em>penggunaan</em> <em>TPU</em><em>, </em><em>penggolongan</em> <em>TPU</em><em>, fasilitas </em><em>TPU</em><em>, sebaran lokasi </em><em>TPU</em><em>, dan pengelolaan </em><em>TPU, m</em><em>engevaluasi lokasi pemakaman ditinjau berdasarkan pola lokasinya, yaitu berdasarkan lokasinya dalam konteks tata ruang dan kedekatannya dengan elemen kegiatan kota</em><em>, dan m</em><em>engevaluasi pe</em><em>nyediaan lahan </em><em>pemakaman di Kota Bandung yang mengacu pada standar dan peraturan yang berlaku terkait dengan pemakaman di kawasan perkotaan</em><em>. Hasil penelitian menunjukkan dari 13 TPU di Kota Bandung terdapat tujuh TPU yang kritis karena </em><em>keterbatasan lahan karena lahan pemakaman telah terisi penuh, </em><em>dan terdapat enam TPU </em><em>yang belum terisi penuh untuk pemakaman karena masih tersedia lahan</em><em>. </em><em>Berdasarkan evaluasi terhadap lokasi pemakaman berdasarkan konteks tata ruang dan elemen kegiatan yang berdekatan diketahui beberapa pemakaman yang secara lokasi tidak sesuai dengan kriteria yang ditetapkan oleh Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 1987</em><em>. </em><em>Seluruh tempat pemakaman umum (TPU) di Kota Bandung belum efektif menjadi salah satu elemen ruang terbuka hijau (RTH) publik karena masih minimnya fasilitas di setiap TPU dan juga masih banyaknya makam yang menggunakan perkerasan (tembok)</em><em>. Hal tersebut karena p</em><em>engelolaan yang dilakukan oleh pihak pengelola dan kuantitas sumber daya manusia (pegawai) masih relatif rendah membuat kondisi TPU menjadi kurang tertib, nyaman, dan indah</em><em>.</em></p> <p><strong><em>Kata Kunci</em></strong><em> : </em><em>Makam, Tempat Pemakaman Umum, Ruang Terbuka Hijau&nbsp;&nbsp; </em></p> M.F. I. Alam Lia Warlina ##submission.copyrightStatement## 2019-04-08 2019-04-08 6 01 14 20 10.34010/jwk.v6i01.2452 DAMPAK KONVERSI LAHAN PERTANIAN KE NON-PERTANIAN TERHADAP PENDAPATAN RUMAH TANGGA PETANI DI KECAMATAN CIBADAK KABUPATEN SUKABUMI https://ojs.unikom.ac.id/index.php/wilayahkota/article/view/2453 <p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p><em>The research objective were to identify land use change in Kecamatan Cibadak and to describe the impact of land use change toward farmer’s income. This research used primary and secondary data. Primary data was collected by distribution of questionary, while secondary data was obtained from related intitutions.overlay technique was used to identify land use change. In other hand, descriptive analysis was use to describe land use change impact toward on farmer’s income.</em></p> <p><em>The total change of land use was 1,86 % in seven years (2006-2013). The total change of land use was 1,19 % in three years (2013-2016). The total income of land use type settlement was 33,112 ha in the ten years. However, the total change of agricultural land was 19,699 ha. It were 11 farmers who convert their land stated that theor income were in change deu to land conversion. Their agricultural land was converted into built area. The farmers still own the land and the culding or houses.</em></p> <p><strong><em>&nbsp;</em></strong></p> <p><strong><em>Kata Kunci</em></strong><em> : </em><em>Guna Lahan, Perubahan Guna Lahan, Pemasukan </em></p> A. Hatta Lia Warlina ##submission.copyrightStatement## 2019-04-08 2019-04-08 6 01 21 28 10.34010/jwk.v6i01.2453 IDENTIFIKASI ALIH FUNGSI LAHAN PERTANIAN MENJADI NON-PERTANIAN (INDUSTRI) DI KABUPATEN CIANJUR SERTA DAMPAK BAGI PEREKONOMIAN MASYARAKAT WILAYAH SETEMPAT DI DESA SUKASIRNA KABUPATEN CIANJUR https://ojs.unikom.ac.id/index.php/wilayahkota/article/view/2454 <p><em>Sukasirna Village is one of ten villages that existed in Kecamatan Sukaluyu. The area of Kecamatan Sukaluyu&nbsp; is about 48.02 km2 or 4,802 ha. In the local Government Regulation No. 17 Year 2012 about Spatial Plan Kabupaten Cianjur in 2011 – 2031 set Kecamatan Sukaluyu bas set industrial zone.</em></p> <p><em>The research objectives area to identify land use change and it’s impact were to the economy of community in Desa Sukasirna. Data collection techniques were primary and secondary data collection. Primary data obtained from the results of observation and dissemination of questionnaires to the communities and farmers, while the secondary data obtained from relevant institutions agencies such as BAPPEDA, Badan Pusat Statistik, and the Office of Sukasirna Village. Method used for data analysis were descriptive analysis and overlay techniques for land use map in 2006, 2011, and 2016. The reseach resultan showed there was conversion of agricultural land into industrial land use. The area of agricultural land i.e ricefield in 2006 was 81.1 percent, in 2011 was 77 percent and in 2016, the area was 66.2 percent. The Langest conversion of agricultural land into industrial land was in 2011 to 2016 with an area of 57,37.</em></p> <p><em>The impact on livelihoods and people's income in 2016 had a decline in the number of farmers and there was an increasing livelihood of factory employees. The growth of industry increased the income of the community in 41 percent and additional income such as trading around the industrial area. Impacts on farmers led to a decrease in land ownership of farmers with a percentage of 48 percent, as well as other impacts on the environment were water pollution and air /sound pollution with a percentage of 70 percent.</em></p> <p><em>&nbsp;</em></p> <p><strong><em>Kata Kunci</em></strong><em> : </em><em>Guna Lahan, Perubahan Guna Lahan, Pemukiman, dan Pemasukan</em></p> A. Gustiwan Lia Warlina ##submission.copyrightStatement## 2019-04-08 2019-04-08 6 01 29 37 10.34010/jwk.v6i01.2454 IDENTIFIKASI POLA PERGERAKAN ORANG DAN BARANG ANTARA KOTA SURABAYA DENGAN KOTA-KOTA DI INDONESIA TIMUR https://ojs.unikom.ac.id/index.php/wilayahkota/article/view/2455 <p><em>Pergerekan orang dan barang yang terjadi khususnya yang menuju Indonesia Timur&nbsp; rata-rata yang terbesar adalah yang melalui Kota Surabaya. Pola pergerakan orang dan barang membuat Pergerakan yang tercipta dengan didukungnya dari faktor jasa transportasi yang memadahi membuat Kota Surabaya menjadi salah satu pintu atau penghubung antara Indonesia bagian barat dan Indonesia bagian timur</em><em>. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi pola pergerakan orang dan barang antara Kota Surabaya dengan kota-kota di Indonesia Timur melihat dari data Asal Tujuan Transportasi Nasional (ATTN) yang berasal dari Kota Surabaya menuju kota-kota di Indonesia Timur terkhusus pada Kota Mataram, Kota Kupang, Kota Makassar, Kota Manado, Kota Ambon, dan Kota Sorong. Untuk metode penelitiannya penulis menggunakan metode Mixed Method atau meode campuran. Dan untuk analisisnya menggunakan analisis deskriptif kuantitatif dan deskriptif kualitatif. Dimana penulis hanya menggunakan data sekunder berupa data ATTN 2011, data RIPN 2016, data dari BPS masing-masing kota, dan studi literatur atau referensi lainnya seperti jurnal dan internet. pola pergerakan orang yang dari Kota Surabaya paling besar adalah Kota Mataram (</em><em>88.957 orang/tahun)</em><em> dan Kota Makassar (</em><em>63.702 orang/tahun</em><em>). Sedangkan untuk pergerakan barang yang dari Kota Surabaya paling besar adalah Kota Mataram (</em><em>165.780 ton/tahun) dan Kota Makassar (145.096 ton/tahun). Sedangkan yang menuju Kota Surabaya baik orang maupun barang lebih di dominasi oleh pergerakan orang dan barang dari Kota Makassar dan Kota Mataram. Hubungan Pola pergerakannya dimana dilihat dari mikro dimana setiap Kota yang menjadi tujuan pergerakan orang dan barang tersebut merupakan Ibu Kota dan memilki bandaran berkelas Nasional dan Internasional, serta pelabuhan yang memiliki hirarki kelas utama dan kelas pengumpul. Sedangkan dari sektor makronya ketika di bandingkan maka pergerakan yang dari Kota Surabaya lebih besar yang menuju Indonesia Timur ketimbang pergerakan yang terjadi dari kota lainnya. Dari pergerakannya menyimpulkan bahwa Kota Surabaya merupakan kota penghubung yang menuju ke Indonesia Timur sehingga pertumbuhan di Indonesia timur ketimpangannya tidak terlalu jauh dari Indonesia bagian Barat</em></p> <p><em>&nbsp;</em></p> <p><strong><em>Kata Kunci</em></strong><em> <strong>: </strong>Ketimpangan Wilayah, Pola Pergerakan,&nbsp; Hubungan&nbsp; Pola Pergerakan</em></p> <p>&nbsp;</p> N. J. Djami Tatang Suheri ##submission.copyrightStatement## 2019-04-08 2019-04-08 6 01 38 45 10.34010/jwk.v6i01.2455