Representasi Identitas Sosial Melalui Roujingo dalam Anime Tensei Shitara Slime Datta Ken: Perspektif Sosiolinguistik

Main Article Content

Devia Augustria Thaher
Melinda Dirgandini

Abstract

Abstract 
Roujingo, the elderly language in Japanese fiction, is part of yakuwarigo or role language. Roujingo 
is frequently employed in fictional works to portray characters with certain stereotypes, such as 
advanced age or high social status. This study aims to examine the use of roujingo in the 
anime Tensei Shitara Slime Datta Ken through a sociolinguistic approach, applying three of 
Fishman's seven sociolinguistic dimensions as cited in Malabar (2015), namely speaker identity, 
interlocutor identity, and the location of speech events. The data consist of six sets of dialogues from 
Season 3, episodes 1, 2, 3, and 20, collected using the observation and note-taking technique. The 
analysis reveals that the use of roujingo in this anime not only reflects age or social status but also 
functions as a marker of authority, power hierarchy, and character construction including 
characters who appear visually young but are actually of advanced age, as seen in the characters 
Luminous Valentine and Veldora. This study also highlights the distinction between the use of 
roujingo in anime and its use in Japanese social reality, where this linguistic style is rarely found 
in everyday conversation. This research is expected to contribute to understanding the relationship 
between language, stereotypes, and social dynamics in fictional media. 
Keywords: anime, roujingo; yakuwarigo; sociolinguistics; Kinsui 



Abstrak 
Roujingo, bahasa lansia dalam fiksi Jepang, merupakan bagian dari yakuwarigo atau bahasa peran. 
Roujingo, sering digunakan dalam karya fiksi untuk menggambarkan karakter dengan stereotip 
tertentu, seperti usia lanjut atau status sosial yang tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji 
penggunaan roujingo dalam anime Tensei Shitara Slime Datta Ken melalui pendekatan 
sosiolinguistik, menggunakan tiga dari teori tujuh dimensi sosiolinguistik Fishman dalam (Malabar, 
2015), yaitu identitas penutur, identitas petutur dan lokasi peristiwa tutur. Data berupa enam set 
dialog dari Season 3 episode 1, 2, 3, dan 20 yang dikumpulkan melalui teknik simak catat. Analisis 
mengungkapkan bahwa penggunaan roujingo dalam anime ini tidak hanya mencerminkan usia atau 
status sosial tetapi juga berperan sebagai penanda kewibawaan, hierarki kekuasaan dan konstruksi 
karakter termasuk pada tokoh yang secara visual tampak muda namun sesungguhnya berusia lanjut, 
seperti nampak pada tokoh Luminous Valentine dan Veldora. Penelitian ini juga menyoroti 
perbedaan antara penggunaan roujingo dalam anime dan penggunaannya dalam realitas sosial 
Jepang, di mana gaya linguistik ini jarang ditemukan dalam percakapan sehari-hari. Penelitian ini 
diharapkan berkontribusi dalam memahami hubungan antara bahasa, stereotip, dan dinamika 
sosial dalam media fiksi.  
Kata kunci: anime, roujingo; yakuwarigo; sosiolinguistik; Kinsui

Article Details

Section

Articles